CKG Jadi Pintu Masuk, Puskesmas Lebak Wangi Bidik TBC hingga Kontak Serumah

SERANG RAYA INFO, BANTEN — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dimanfaatkan UPT Puskesmas Lebak Wangi, Kabupaten Serang, sebagai pintu masuk untuk memperkuat deteksi dini berbagai penyakit, termasuk tuberkulosis (TBC).

Tak berhenti pada pemeriksaan kesehatan, Puskesmas Lebak Wangi mengintegrasikan CKG dengan kegiatan tracing atau penelusuran kasus TBC. Ketika ditemukan peserta yang memiliki gejala atau faktor risiko TBC, petugas kemudian menelusuri kemungkinan adanya kontak serumah yang juga berisiko.

Program tersebut diterapkan dalam kegiatan Tracing/Penemuan Kasus TBC Terintegrasi dalam Cek Kesehatan Gratis di Desa Purwadadi, Kecamatan Lebak Wangi. Sebanyak 100 peserta mengikuti kegiatan tersebut.

Kepala UPT Puskesmas Lebak Wangi, drg. Chris, mengatakan pendekatan tersebut membuat penemuan kasus TBC dapat dilakukan lebih terarah. Menurutnya, pemeriksaan tidak semestinya hanya berorientasi pada jumlah warga yang mengikuti CKG, tetapi juga pada tindak lanjut dari hasil pemeriksaan.

«“Kami tidak ingin sekadar mengejar jumlah orang yang diperiksa. Yang lebih penting adalah bagaimana dari pemeriksaan itu kita bisa menemukan siapa yang memang memiliki risiko dan kemudian menindaklanjutinya. Kalau ada indikasi TBC, kita bisa melihat kontak serumahnya,” ujar Chris.»

Menurut Chris, kontak serumah menjadi perhatian karena anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah memiliki kedekatan dan riwayat paparan yang perlu diperiksa berdasarkan hasil penilaian tenaga kesehatan.

“Kalau kita sudah menemukan satu titik yang potensial, kita bisa memancing lebih terarah di sana. Dalam konteks TBC, ketika menemukan seseorang yang berisiko, kita bisa menelusuri kontak serumahnya,” katanya.

Tak Berhenti pada Tracing

Penanganan TBC di Puskesmas Lebak Wangi tidak berhenti pada penemuan kasus. Kontak serumah yang teridentifikasi juga diarahkan untuk menjalani pemeriksaan sesuai indikasi.

Bagi kontak yang memenuhi kriteria, upaya pencegahan dapat dilanjutkan melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Namun, sebelum mendapatkan TPT, kontak harus menjalani penilaian dan pemeriksaan untuk memastikan tidak mengalami TBC aktif.

“Setelah menemukan kasus, pekerjaan kita belum selesai. Kita lihat kontak serumahnya, siapa yang berisiko dan siapa yang perlu diperiksa lebih lanjut. Kalau ada yang memenuhi kriteria untuk terapi pencegahan, kita arahkan untuk TPT,” jelas Chris.

Pendekatan tersebut membuat penanganan TBC dilakukan secara berjenjang, mulai dari menemukan kasus, menelusuri kontak serumah, memastikan pemeriksaan, hingga memberikan terapi pencegahan bagi mereka yang memenuhi kriteria.

Integrasi dengan CKG sekaligus menjadi kesempatan bagi tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala TBC, pentingnya pemeriksaan serta perlunya penelusuran terhadap kontak erat.

CKG Kabupaten Serang Hampir 1 Juta Peserta

Besarnya cakupan CKG di Kabupaten Serang menjadi peluang untuk memperluas deteksi dini penyakit di masyarakat.

Berdasarkan data per 9 September 2026, sebanyak 735.867 penduduk Kabupaten Serang telah mendapatkan pelayanan CKG Umum dan 263.785 siswa melalui CKG Sekolah. Jika digabungkan, jumlahnya mencapai 999.652 orang, atau 56,16 persen dari total penduduk Kabupaten Serang yang berjumlah 1.779.858 jiwa.

Capaian tersebut juga telah melampaui target 2026 sebesar 818.735 sasaran. Realisasi pelayanan tercatat mencapai 122,10 persen dari target.

Program CKG sendiri merupakan bagian dari program pemerintah di bidang kesehatan yang diarahkan untuk mendeteksi faktor risiko, kondisi pra-penyakit, dan penyakit sejak dini. Pada 2026, pelaksanaannya juga semakin ditekankan pada tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan.

Bagi Puskesmas Lebak Wangi, hal tersebut menjadi peluang untuk menjadikan CKG bukan sekadar kegiatan skrining, tetapi bagian dari pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.

“Yang kita kejar bukan hanya angka cakupan. Kalau ada faktor risiko, kita berikan edukasi dan tindak lanjut. Kalau ada dugaan TBC, kita pastikan pemeriksaannya berjalan. Kalau ditemukan kontak yang memenuhi kriteria, kita juga ingin memastikan upaya pencegahannya dilakukan,” tutur Chris.

Puskesmas Lebak Wangi juga melibatkan kader dan jejaring kesehatan di masyarakat untuk membantu mengedukasi warga, mendorong pemanfaatan CKG, serta menghubungkan masyarakat dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, CKG diharapkan tidak berhenti pada hasil pemeriksaan. Bagi Puskesmas Lebak Wangi, satu temuan TBC dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri kontak serumah, menemukan risiko lain, sekaligus mencegah berkembangnya infeksi menjadi penyakit melalui langkah pencegahan, termasuk TPT bagi kontak yang memenuhi kriteria. (*)

Share this content:

Post Comment