Siswa Pintar Meniru, Tetapi Tidak Berbahasa
Oleh : Uun Hasunah (Uunhasunah1987@gmail.com)
Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang
SERANG RAYA INFO, OPINI – Fenomena yang berkembang di banyak ruang kelas PAUD saat ini menunjukkan sebuah ironi yang menarik perhatian. Anak-anak tampak mampu mengucapkan kosakata dasar seperti warna, angka, huruf, bahkan memperagakan lagu atau dialog berbahasa asing yang mereka peroleh dari tayangan digital. Namun ketika diarahkan untuk mengungkapkan pengalaman sederhana dalam keseharian, menjelaskan kebutuhan personal, atau mengekspresikan perasaan, tidak sedikit dari mereka yang tampak kesulitan merangkai kata. Kemampuan mereka cenderung terhenti pada tataran imitasi, bukan pada penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi yang bermakna. Dalam konteks ini, anak terlihat pandai meniru bunyi dan bentuk bahasa, tetapi belum mampu mengolah bahasa tersebut menjadi sarana berpikir dan berinteraksi secara autentik.
Fenomena tersebut sesungguhnya bukan terjadi tanpa sebab. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan gadget pada anak usia dini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Perangkat digital tidak lagi sekadar berfungsi sebagai sarana hiburan, melainkan kerap beralih peran menjadi pendamping utama anak ketika orang tua sedang disibukkan oleh pekerjaan, ketika anak berada dalam kondisi gelisah, atau saat keluarga memerlukan solusi penenang yang cepat. Pola penggunaan seperti ini, apabila berlangsung terus-menerus, secara perlahan namun konsisten mulai memengaruhi proses perkembangan bahasa dan interaksi anak.
Pertanyaan yang patut kita ajukan bersama adalah: Mengapa anak tampak pintar, tetapi kesulitan berbahasa? Apa yang sebenarnya hilang dari proses belajar anak hari ini?
Bahasa Tumbuh Melalui Interaksi, Bukan Sekadar Paparan
Pada rentang usia 0–6 tahun, perkembangan otak anak berlangsung secara sangat intensif. Pada tahap ini, kemampuan berbahasa tidak hanya diperoleh melalui rangsangan auditori, tetapi juga melalui pengalaman interaksi sosial yang dinamis. Anak membangun keterampilan berbahasa melalui kontak tatap muka, variasi intonasi dalam percakapan, respons emosional dari lawan bicara, serta keterlibatan dalam dialog yang bersifat timbal balik.
Penelitian terbaru oleh Kuhl (2021) menunjukkan bahwa perkembangan bahasa pada anak berlangsung secara optimal melalui interaksi sosial langsung dengan orang dewasa. Ketika anak hanya menerima stimulus bahasa melalui layar tanpa adanya respons, kontak mata, atau umpan balik verbal, peningkatan kemampuan bahasanya tidak berkembang secara signifikan. Dengan kata lain, mendengar kata-kata bukan berarti memahami bahasa. Media digital seperti gadget, televisi, dan video bekerja secara satu arah: mereka dapat menampilkan suara dan gambar, namun tidak memberikan respons yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi anak. Akibatnya, anak mungkin mampu menirukan apa yang ia lihat atau dengar, tetapi tidak memproses makna tersebut dalam konteks interaksi sosial yang sebenarnya.
Fenomena Kemampuan Pasif pada Anak Usia Dini
Di sejumlah lembaga PAUD, guru kerap menemukan pola perkembangan bahasa yang serupa. Banyak anak mampu menyanyikan lagu berbahasa Inggris, namun tidak memahami makna kata-kata yang mereka ucapkan. Mereka dapat mengenali alfabet melalui lagu phonics, tetapi belum dapat memanfaatkannya untuk menyampaikan ide atau gagasan pribadi. Bahkan, anak sering kali dapat menirukan dialog dari tokoh animasi, namun kesulitan menjelaskan kebutuhan atau keinginannya dalam situasi komunikasi nyata. Kondisi ini mencerminkan apa yang disebut sebagai kemampuan pasif, yakni ketika anak mampu mengulang informasi, tetapi belum memiliki kemampuan untuk mengungkapkannya secara ekspresif dan bermakna.
Penelitian American Academy of Pediatrics (2019) menemukan bahwa paparan layar yang tinggi tanpa pendampingan berkaitan erat dengan rendahnya kemampuan bahasa ekspresif dan keterampilan sosial. Anak tampak “pintar” secara verbal, padahal ia belum benar-benar memahami fungsi bahasa sebagai alat berpikir dan membangun hubungan.
Lingkungan Keluarga dan Kemudahan Digital
Kita tidak dapat menutup mata bahwa tekanan kehidupan keluarga di zaman modern memiliki pengaruh besar terhadap pola interaksi anak. Waktu kerja orang tua yang semakin panjang, minimnya ruang bermain yang aman, serta ritme hidup yang serba cepat mendorong orang tua mencari solusi yang dianggap praktis, sehingga gadget kerap berfungsi sebagai “pengasuh pengganti.” Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Radesky & Christakis (Pediatrics, 2023), pengaruh media digital terhadap perkembangan anak sangat bergantung pada kualitas keterlibatan orang dewasa selama penggunaan. Tanpa percakapan, penjelasan, atau respons dari orang tua sebagai pendamping, proses belajar anak terjadi dalam kesunyian komunikasi—meski secara fisik ia tampak aktif dengan visual dan audio yang disajikan oleh layar.
Menguatkan Interaksi sebagai Pondasi Bahasa
Untuk memulihkan kembali perkembangan bahasa anak, yang perlu diperbaiki bukan sekadar aturan penggunaan gadget tetapi kualitas interaksi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan bahasa tumbuh dari percakapan yang berlangsung secara konsisten dan bermakna. Upaya sederhana dapat menjadi sangat efektif, seperti membacakan buku dengan tenang sambil memberi kesempatan anak bertanya atau menanggapi, mendampingi anak dalam permainan peran yang menghubungkan bahasa dengan imajinasi, melibatkan anak dalam aktivitas rumah tangga sembari bercakap-cakap, serta membiasakan diskusi mengenai apa yang mereka rasakan atau amati. Kegiatan sehari-hari yang tampak sederhana tersebut justru berperan sebagai bentuk stimulasi bahasa yang paling kaya dan mendasar bagi perkembangan kemampuan berbahasa anak.
Fenomena “siswa pintar meniru, tetapi tidak berbahasa” adalah sinyal penting yang perlu kita perhatikan bersama. Anak mungkin tampak mampu, tetapi kemampuan yang tampak belum tentu mencerminkan perkembangan yang mendalam. Menghafal dan menirukan bukanlah inti dari bahasa. Bahasa adalah kemampuan memahami diri, membangun makna, dan menjalin interaksi dengan orang lain.
Oleh karena itu, tugas kita bukan melarang gadget sepenuhnya, tetapi mengembalikan interaksi manusia sebagai pusat dari tumbuh kembang anak. Tidak ada media digital yang dapat menggantikan kehangatan percakapan, tatapan mata penuh perhatian, dan sapaan lembut yang mengundang anak untuk membangun kemampuan bahasanya. Pada akhirnya, kualitas masa depan anak tidak ditentukan oleh seberapa banyak lagu atau materi yang mereka hafal, melainkan sejauh mana mereka mampu berkomunikasi, memahami, dan dimengerti.


Post Comment