Anak Aktif Dan Tantangan Di Era Digital

Oleh : Fifit Safitri (Fifitsafitri31@gmail.com)
Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang

SERANG RAYA INFO, OPINI – Fenomena Anak Usia Dini (AUD) yang sangat aktif menggambarkan kondisi di mana anak menunjukkan tingkat energi, rasa ingin tahu, dan aktivitas fisik yang tinggi hampir sepanjang waktu. Anak yang sangat aktif biasanya sulit untuk diam dalam waktu lama, senang mengeksplorasi lingkungan sekitarnya, serta memiliki dorongan kuat untuk mencoba hal-hal baru. Aktivitas fisik yang tinggi sering disalahartikan sebagai perilaku bermasalah, padahal merupakan bagian dari perkembangan alami anak. Pendidik Anak Usia Dini melihat bagaimana karakter anak aktif dapat dikelola melalui kegiatan yang bervariasi dan pendekatan belajar fleksibel. Dengan memahami kebutuhan gerak dan cara belajar anak, guru dan orang tua dapat menuntun energi anak agar dapat tersalurkan dengan positif dan mendukung perkembangan anak.

Pendidik Anak Usia Dini (AUD) pada praktiknya kondisi di lapangan menemukan, beberapa anak kerap berlarian, bergurau, atau memainkan berbagai benda apakah itu mainan, alat tulis, kursi dan meja bahkan buku bacaan. sehingga suasana menjadi kurang kondusif — terutama saat kegiatan doa bersama, menghafal, menonton tayangan edukatif atau  kegiatan yang menuntut anak untuk duduk tenang. Namun, saat kegiatan dirancang lebih bervariasi dengan menyiapkan berbagai ragam main dan anak diperbolehkan berpindah dari aktivitas satu ke aktivitas berikutnya setelah menyelesaikan satu kegiatan, mereka justru dapat mengikuti dengan baik.

Fenomena ini memunculkan fikiran: apakah perilaku aktif dan mudah terdistraksi adalah tanda anak sulit belajar, atau justru wujud rasa ingin tahu yang tinggi?. Mengingat perkembangan teknologi saat ini begitu pesat, pemanfaatan teknologi sebagai sarana pembelajaran oleh guru menjadi sangat penting, terutama dalam menghadapi karakteristik anak usia dini yang sangat aktif. Teknologi dapat digunakan sebagai media yang interaktif dan menarik untuk menyalurkan energi serta rasa ingin tahu anak secara positif. Melalui permainan edukatif digital, video pembelajaran, aplikasi interaktif, atau penggunaan alat peraga berbasis teknologi, guru dapat menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis dan partisipatif. guru perlu tetap berperan sebagai fasilitator aktif, memastikan bahwa penggunaan teknologi tidak menggantikan interaksi sosial langsung, melainkan memperkaya pengalaman belajar anak melalui pendekatan yang seimbang antara aktivitas digital dan kegiatan fisik.

Anak Aktif Adalah Bagian dari Perkembangan Normal

Anak usia dini berada pada masa eksplorasi yang sangat tinggi, di mana rasa ingin tahu mereka mendorong keinginan untuk mencoba, bergerak, dan bereksperimen dengan berbagai hal di sekitarnya. Menurut Santrock (2023), pada rentang usia 4–6 tahun, anak sedang berada dalam tahap perkembangan penting yang melibatkan peningkatan kemampuan motorik kasar dan halus, sekaligus pembentukan dasar kemampuan  dan pengendalian diri. Anak tertarik pada hal-hal baru dan cepat berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Oleh karena itu, proses belajar yang paling efektif bagi mereka adalah yang bersifat konkret, aktif, dan melibatkan gerak tubuh secara langsung, seperti bermain sambil belajar atau melakukan kegiatan yang memadukan unsur fisik dan kognitif.

Dalam konteks ini, perilaku aktif anak sebaiknya tidak langsung dimaknai sebagai bentuk gangguan fokus atau ketidakmampuan berkonsentrasi. Justru, aktivitas tinggi merupakan ekspresi alami dari kesiapan belajar dan proses perkembangan yang khas pada masa ini. Anak aktif sedang berusaha memahami dunia dengan seluruh indranya, dan melalui gerakan mereka mengeksplorasi konsep-konsep baru secara nyata. Tugas guru dan orang tua adalah mengarahkan energi tersebut melalui kegiatan yang terstruktur, bermakna, dan menyenangkan, sehingga potensi eksplorasi anak dapat berkembang optimal. Dengan cara ini, perilaku aktif bukan menjadi hambatan dalam pembelajaran, melainkan jembatan menuju pengalaman belajar yang lebih efektif dan berkesan.

Sebagai pendidik sepatutnya menyadari bahwa meminta peserta didik untuk duduk tenang dalam waktu lama sering berlawanan dengan kebutuhan alami mereka. Maka, strategi pembelajaran yang digunakan perlu memberi ruang gerak bagi peserta didik. Dengan begitu, energi fisik anak tersalurkan tanpa mengganggu proses belajar.

Lingkungan Digital  pada Anak

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar pada cara anak berinteraksi, belajar, dan bereksplorasi. Anak-anak masa kini tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan perangkat digital seperti gawai, tablet, dan media interaktif yang menjadi bagian dari keseharian mereka. Lingkungan digital pada masa kini memberikan peluang besar bagi pengembangan potensi anak yang aktif melalui pembelajaran yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan. Teknologi memungkinkan anak untuk belajar sambil bermain (learning through play), mengeksplorasi konsep-konsep baru dengan cara visual dan kinestetik, serta melatih kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah sejak usia dini.

Dalam konteks pendidikan anak usia dini, guru berperan penting dalam memanfaatkan teknologi secara positif sehingga menjadi sarana yang memperkaya pengalaman belajar anak. Selain memperkaya proses belajar, teknologi juga berkontribusi dalam memperluas akses terhadap sumber pengetahuan yang lebih luas dan beragam. Anak-anak dapat belajar dari berbagai konteks global, berinteraksi dengan konten yang relevan dengan minat mereka, serta mengembangkan literasi digital sejak dini.

 Studi oleh Khirwadkar dkk. (2025) menunjukkan bahwa penerapan virtual makerspaces dalam pendidikan anak usia dini mampu meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan berpikir kreatif, serta keterampilan motorik halus anak melalui kegiatan eksploratif berbasis teknologi. Dengan bimbingan guru dan dukungan lingkungan belajar yang tepat, teknologi dapat menjadi jembatan yang efektif untuk menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat pada anak yang aktif dan penuh rasa ingin tahu.

Menuntun Energi Anak

Menghadapi anak yang aktif bukan berarti harus membatasi gerak mereka, melainkan mengarahkan energi tersebut menjadi sarana belajar yang bermakna. Guru dan orang tua dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan memberikan kegiatan yang bertahap dan bervariasi, disesuaikan dengan kemampuan konsentrasi anak yang masih singkat namun dapat dilatih melalui pengulangan. Aktivitas motorik seperti permainan atau lagu dapat diintegrasikan sebelum memulai kegiatan yang membutuhkan fokus penuh, sehingga anak lebih siap secara fisik dan mental. Selain itu, ruang belajar sebaiknya ditata secara fleksibel agar anak dapat bergerak bebas tanpa mengganggu teman-temannya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Iswatiningsih (2023), guru di era digital perlu memiliki kreativitas, kemampuan kolaborasi, serta komunikasi yang baik agar pembelajaran berlangsung efektif dan menyenangkan di tengah perubahan zaman. Guru yang memahami karakter dan kebutuhan belajar anak akan lebih mampu menyalurkan energi aktif mereka menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Pendekatan yang hangat dan konsisten membantu anak belajar mengelola dirinya.

Sebagai simpulan bahwa fenomena anak aktif dan mudah terdistraksi mencerminkan realitas dunia anak yang penuh energi dan rasa ingin tahu. Tantangannya bukan membuat mereka diam, melainkan membantu mereka menemukan irama belajar yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Pendidik Anak Usia Dini (AUD) menyadari bahwa kesabaran dan kreativitas lebih efektif daripada aturan yang kaku. Ketika kita memahami bahwa aktivitas anak adalah bentuk belajar, bukan gangguan, kita sedang membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang fokus, bahagia, dan mencintai proses belajar sepanjang hayat.

Post Comment

You May Have Missed