30 Perusahaan di Banten Ajukan Tutup Sepanjang 2025, Hampir 7 Ribu Karyawan di-PHK
SERANG RAYA INFO, SERANG – Sebanyak 30 perusahaan di Banten mengajukan permohonan rekomendasi penutupan atau penghentian kegiatan usaha sepanjang 2025, dengan dampak hampir 7.000 karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten, Septo Kalnadi, mengatakan jumlah tersebut merupakan perusahaan yang pengajuan rekomendasinya langsung ditandatangani olehnya selama satu tahun terakhir.
”Yang saya tandatangani rekom (rekomendasi penutupan-red) satu tahun ini lebih dari 30 perusahaan. Data lengkapnya ada di masing-masing kabupaten/kota,” kata Septo, Senin (1/12).
Ia menjelaskan, perusahaan yang paling banyak mengajukan penutupan berasal dari sektor perdagangan dan jasa, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM) seperti usaha alat mebeler atau furnitur. Sementara itu, perusahaan berskala besar yang sudah terbuka (Tbk) memiliki prosedur penutupan yang lebih kompleks.
”Kebanyakan sektor perdagangan dan jasa. Kalau yang perusahaan besar karena dia sudah terbuka jadi kalau tutupnya harus lewat pemegang saham dan sebagainya,” ujarnya.
Septo menegaskan, alasan utama penutupan bukan disebabkan oleh tingginya upah minimum, melainkan lebih kepada lesunya permintaan pasar, persoalan kedisiplinan, hingga ketidakmampuan perusahaan bertahan di tengah kondisi ekonomi yang melambat.
”Seperti satu perusahaan di Tangerang dia bikin mobil box ternyata peminatnya kurang, jadi tutup, bukan karena upah minimum,” kata dia.
Selain itu, terdapat pula perusahaan alas kaki yang memindahkan pabriknya dari Banten ke Jawa Tengah dengan pertimbangan upah buruh yang lebih murah. Namun, di lokasi baru perusahaan justru menghadapi persoalan produktivitas.
“Teman-teman di perusahaan mengatakan bahwa di sana (Jawa Tengah-red) okeh upah buruh murah, tapi mereka menghadapi kendala produktivitas belum sesuai dengan yang diharapkan perusahaan,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, tingkat kegagalan quality control (QC) di pabrik baru tersebut mencapai 30 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan ketika masih beroperasi di Tangerang yang hanya sekitar 4 persen.
Penutupan puluhan perusahaan tersebut turut menyumbang angka PHK di Provinsi Banten. Sepanjang periode Januari hingga Oktober 2025, tercatat sebanyak 6.863 pekerja terdampak pemutusan hubungan kerja.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan juga menunjukkan dinamika pada jumlah pengangguran. Ketua Tim Kerja Statistik Sosial BPS Provinsi Banten, Adam Sofian, menyampaikan bahwa pada Agustus 2025 jumlah pengangguran di Banten mencapai 412,36 ribu orang.
Jumlah tersebut mengalami penurunan tipis sebesar 2,40 ribu orang jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Agustus 2024. Adapun komposisi angkatan kerja pada Agustus 2025 terdiri dari 5,76 juta orang penduduk yang bekerja dan 412,36 ribu orang pengangguran.
Namun, jumlah penduduk yang bekerja juga tercatat menurun sebanyak 42,00 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, total angkatan kerja di Banten berkurang sebanyak 44,40 ribu orang.
”Apabila dibandingkan Agustus 2024, jumlah angkatan kerja, jumlah penduduk bekerja, dan pengangguran masing-masing berkurang sebanyak 44,40 ribu orang, 42,00 ribu orang, dan 2,40 ribu orang,” kata Adam. (*)
Sumber: Tangerang Ekspres



Post Comment